Setahun MBG di Wajo: Antara Harapan dan Catatan Pahit
Oleh : Abrar Mattalioe
Mediapertiwi,id-Setahun sudah program Makan Bergizi Gratis berjalan. Niatnya mulia: menurunkan stunting, menaikkan konsentrasi belajar, dan meringankan beban orang tua. Di Kabupaten Wajo, dapur-dapur MBG pun mulai beroperasi dan anak-anak mulai antri menerima kotak makan siang. Tapi setelah 12 bulan, pertanyaannya muncul: apakah program ini sudah memuaskan?
Harus diakui ada kemajuan. Anak-anak yang dulu bekalnya roti dan teh manis, kini dapat nasi, lauk, sayur dan buah. Walaupun kadang menunya masih dalam perdebatan. Bagi keluarga prasejahtera, ini bantuan nyata. Efeknya juga sampai ke ekonomi. Petani, peternak, dan UMKM lokal yang jadi pemasok dapur MBG merasakan perputaran uang. Itu poin plus yang tidak bisa kita abaikan.
Namun di sisi lain, catatan pahit mulai bermunculan. Keluhan paling dasar adalah soal rasa dan variasi menu. Ayam dan telur diulang terus. Sayur sering layu. Nasi kadang kurang. Anak-anak cepat bosan. Kalau tujuannya agar anak lahap makan dan gizinya terpenuhi, maka menu yang monoton justru kontraproduktif.
Masalah kedua adalah distribusi dan higienitas. Jarak dapur ke sekolah yang jauh membuat makanan sampai dalam kondisi dingin. Di beberapa daerah bahkan sempat muncul kasus keracunan massal. Ini alarm keras. Standar dapur, pelatihan juru masak, dan pengawasan BPOM tidak boleh main-main. "Gratis" tidak boleh jadi alasan untuk "asal-asalan".
Yang ketiga soal transparansi anggaran. Dana MBG sangat besar. Publik berhak tahu: berapa harga per porsi, siapa pemenang tender kateringnya, dan bagaimana mekanisme kontrolnya. Tanpa keterbukaan, program sebaik apapun akan dicurigai jadi bancakan. Kepercayaan publik adalah modal utama MBG.
Untuk Wajo khususnya, kita perlu evaluasi jujur. Apakah semua kecamatan sudah terlayani merata? Apakah bahan baku benar-benar diambil dari petani Wajo? Apakah ada saluran pengaduan yang direspon cepat ketika menu tidak layak? Tiga pertanyaan ini harus dijawab pemerintah daerah bersama pelaksana MBG.
Setahun MBG belum bisa disebut memuaskan. Dia baru "lumayan jalan". Agar tahun kedua lebih baik, MBG harus berbenah: perbaiki menu, perketat pengawasan, percepat distribusi, dan buka data anggaran. Karena yang kita beri makan ini adalah generasi Wajo. Jangan sampai karena buru-buru, kita malah merusak kepercayaan mereka pada negara..(Abrar Mattalioe Bupati LIRA Wajo).

Posting Komentar