Kondisi Pasar Atapange Majauleng Wajo Memprihatinkan

Mediapertiwi,id-Wajo-Kondisi lokasi Pasar Atapange di Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, disorot karena memprihatinkan. Berdasarkan pantauan di lapangan, area lorong pasar dipenuhi lumpur tebal, genangan air kotor, serta sampah plastik berserakan di mana-mana. Lantai yang seharusnya jadi jalur lalu lintas pedagang dan pembeli berubah menjadi kubangan yang menyulitkan aktivitas jual beli.
Hasil pantau media ini, terlihat jalan utama pasar becek dan licin. Air menggenang bercampur lumpur, sampah, dan sisa dagangan. Beberapa lapak kayu di sisi kiri kanan pasar tampak terendam air kotor. Kondisi ini membuat pedagang maupun pembeli harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset atau kotor saat melintas. “Setiap hujan turun, pasar ini langsung jadi kubangan. Motor saja susah masuk, apalagi pembeli Banyak yang putar balik karena beceknya minta ampun,” ujar salah seorang pedagang yang enggan disebut namanya, Selasa (9/6/2026).
Warga menilai kondisi pasar yang kumuh dan tidak terurus ini sudah berlangsung lama. Padahal Pasar Atapange termasuk pasar tradisional yang jadi tumpuan ekonomi masyarakat Majauleng dan sekitarnya. Minimnya drainase dan perawatan lantai pasar diduga jadi penyebab utama. Air hujan tidak punya jalur pembuangan, sehingga menggenang dan bercampur dengan limbah dagangan. “Ini pasar, bukan sawah. Masa lantai pasar lebih parah dari jalan tani. Kami bayar retribusi tiap hari, tapi tidak ada perubahan. Kalau begini terus, siapa yang mau belanja? ” keluh warga lain.
Sementara itu, LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Wajo yang diminta tanggapannya, menyebut kondisi ini bentuk kelalaian pengelola pasar dan pemerintah daerah. “Retribusi jalan terus, tapi fasilitas nol besar. Mana fungsi UPT Pasar? Mana pengawasan Disperindag? Pasar Atapange ini denyut ekonomi Majauleng. Kalau dibiarkan becek dan kotor, pedagang gulung tikar, PAD juga anjlok,” tegas Abrar Mattalioe, Bupati LSM LIRA Wajo.
Abrar mendesak Pemkab Wajo melalui Disperindag dan UPT Pasar segera turun tangan. Perbaikan lantai, normalisasi drainase, dan kebersihan pasar harus jadi prioritas, bukan sekadar wacana. “Jangan tunggu pasar ini viral karena ada pedagang terpeleset atau ada wabah penyakit baru bergerak. Pengelolaan pasar itu cerminan wajah pemerintah. Kalau pasarnya saja kumuh, jangan mimpi Wajo disebut kota layak dagang,” sindirnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak UPT Pasar Atapange dan Disperindag Wajo belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi pasar dan rencana perbaikan. Sementara pedagang berharap ada tindakan nyata sebelum kondisi semakin parah dan merugikan semua pihak.(Tim).
Posting Komentar