Kepala BWS Sulawesi IV Kendari Didesak Mundur, Diduga Akibat Rehabilitasi D.I Walay Bermasalah.

Mediapertiwi,id-Kendari-Sejumlah massa yang berasal dari konsorsium masyarakat pemerhati daerah sulawesi tenggara (KMPD Sultra) mendatangi kantor BWS Sulawesi IV Kendari dalam rangka menyuarakan aspirasi dan mendesak pengunduran diri Kepala Balai.
Subtansi utama aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh konsorsium masyarakat pemerhati daerah sulawesi tenggara, mengenai proses pelaksanaan rehabilitasi Daerah Irigasi Walay yang dinilai terdapat berbagai masalah dan kerusakan struktur bangunan (Deformasi).
Sehingga memantik aksi unjuk rasa yang menuntut pengunduran diri Kepala BWS Sulawesi IV Kendari dan perbaikan metode pelaksanaan pekerjaan Daerah Irigasi Walay serta perbaikan kerusakan yang ada.
Koordinator Lapangan Resky Tamburaka dalam orasinya menyampaikan bahwa, Pekerjaan rehabilitasi Daerah Irigasi Walay dinilai menggunakan metode primitif dalam penyediaan beton cor cair dan telah berkali - kali melanggar sistem manajemen keselamatan konstruksi (SMKK).
"Rehabilitasi D.I Walay harusnya menggunakan beton Ready Mix Concrete yang berasal dari batchng plant agar mutu dan kualitas terjamin, namun dilapangan hanya menggunakan truck molen yang dibantu alat berat excavator untuk pembuatan material.
Lanjut, Resky (Sapaan Akrabnya) juga mengantakan jikalau perusahaan dan BWS harus memperhatikan anyaman dan ketebalan beton.
Selain itu perusahaan dan balai harus lebih cermat dan teliti dalam melakukan pengawasan dilapangan. karena hasil peninjauan kami, jarak anyaman besi dan ketebalan beton tidak konsisten. bahkan, tanah dasar (Sungrade) yang telah dipasangi besi amblas begitu dalam.
Setelah itu Kordinator II Hebriyanto. M juga menambahkan, jika proses pekerjaan rehabilitasi Daerah Irigasi Walay kerap melanggar dan mengabaikan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK).
"Hasil peninjauan kami dilapangan, terpantau para pekerja tidak menggunakan Alat Pelindung Diri dengan lengkap bahkan tidak menggunakan sama sekali, persoalan ini sangat krusial sebab nyawa tidak lebih berharga dari sebuah proyek, ini merupakan pelanggaran yang sangat serius yang terus dibiarkan oleh pihak balai"
Terakhir, Hebri (Sapaan Karibnya) menyampaikan jika pekerjaan Daerah Irigasi Tahap I dan II telah mengalami kerusakan.
"Dan yang lebih krusial adalah output pekerjaan tahap I dan II yang dilaksanakan dua tahun terakhir, menurut hasil investigasi kami dibeberapa titik aliran irigasi D.I Walay telah mengalami keretakan (Deformasi) pada bagian dinding. sehingga, muncul asumsi jika mutu dan kualitas beton tidak sesuai dengan spesifikasi dan mutu beton.(Hbr).
Posting Komentar