Puasa Sebagai Tanggung Jawab Kepada Tuhan Untuk Menjaga Kemuliaan Nilai Manusia di Bumi
Oleh:Jacob Ereste
Mediapertiwi,id-Puasa itu tak hanya menahan haus dan lapar semata, tidak juga untuk memberi waktu istirahat bagi perut dan pencernaan yang telah bekerja hampir setahun lamanya -- jika tidak ada puasa wajib pada bulan ramadhan -- tapi juga untuk mengulur kesabaran agar bisa lebih panjang dan lebar hingga tinggi untuk melihat cahaya yang indah, tapi puasa diperlukan untuk menakar kepedulian dan pengertian serta empati kepada orang miskin, rakyat yang lapar, meski belum bisa membantu dan memberi santunan bagi mereka yang memerlukannya. Maka itu dalam skala kecil menemukan berkah dengan menyediakan makanan dan minuman pada setiap hari Jum'at yang diyakini memiliki berkah yang berlimpah. Atau, mengirim makanan dan minuman segar untuk berbuka puasa di masjid yang acap disinggahi para musafir dari berbagai daerah atau kota lain.
Jadi puasa sebagai ibadah -- tak hanya pada bulan ramadhan memiliki multi fungsi dan manfaat yang besar untuk menekan egosentrisitas, hawa nafsu, ketamakan dan kerakusan yang menjadi energi negatif seperti berbuat korup, ingkar janji, khianat hingga berbohong seakan menjadi perbuatan yang tidak tercela dan tidak berdosa. Padahal, manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna, fitrahnya mengemban amanah rahmatan lil alamin sebagai khslidatullah -- wakil Tuhan -- di bumi. Karena itu, manusia yang mencederai alam dan sesama manusia akan sangat terkutuk.
Itulah sebabnya, puasa sunnah pun -- tidak hanya puasa pada bulan ramadhan -- menjadi sangat penting dilalukan oleh banyak orang, tidak hanya sebatas bagi umat Islam semata -- karena manfaat dari puasa untuk mematangkan jiwa dan batin yang melandasi sikap dan sifat kemuliaan bagi setiap manusia tidak hanya mampu dipertajam, tetapi juga bisa melampaui dimensi spiritual yang lebih tinggi dan lebih jauh untuk mendekat ke aras Illahi Rabbi pada lapis langit ketujuh. Artinya jelas, pemahaman terhadap puasa -- apalagi puasa pada bulan ramadhan -- bukan sekedar ritual keagamaan, tapi jelas dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman spiritual yang sangat amat diperlukan pada jaman yang semakin menggradasi nilai etika, moral dan akhlak manusia yang semakin mabuk terhadap segala bentuk material, bukan spiritual. Sehingga harta menjadi berhala sesembahan yang dipuja-puja serta menjadi kebanggaan yang utama, seperti gelar yang kosong, tanpa isi seperti yang tercermin dari kegadrungan banyak memiliki ijazah palsu.
Padahal, esensi dari puasa wajib pada bulan ramadhan serta puasa sunnah -- lebih mengutamakan isi, bila perlu tanpa bungkus, seperti kualitas hand phone yang tidak perduli pada tampilan kesing, sebab yang lebih penting dan utama adalah kualitas fungsi dan kegunaannya. Karena puasa itu sendiri harus dimulai dari kesadaran dalam melakukannya dengan cara disiplin diri serta kejujuran dan keikhlasan atas keinginan diri sendiri, tanpa campur tangan apalagi sanksi dari pihak lain. Sebab urusan puasa yang dilakukan oleh setiap orang pertanggung jawabannya semata-mata hanya kepada Tuhan. Jadi, ketika puasa wajib maupun puasa sunnah dapat dipahami sebagai pembelajaran untuk lebih bertanggung jawab kepada Tuhan -- oleh penganut agama apapun yang ada -- maka esensinya ialah janji untuk menjaga diri kita sendiri untuk mengemban amanah sebagai khalifatullah, makhluk Tuhan yang paling mulia dari makhluk ciptaan lainnya yang ada di bumi.
Tangerang, 16 Februari 2026.

Post a Comment