News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pengorbanan dan Kepahlawanan Kaum Pergerakan Dalam Narasi Kesaksian Padapotan Lubis

Pengorbanan dan Kepahlawanan Kaum Pergerakan Dalam Narasi Kesaksian Padapotan Lubis


Oleh:Jacob Ereste 

Mediapertiwi,id-Saya sungguh terkejut, sedih dan terpana membaca pemberitaaan meninggal sahabat aktivis Padapotan Lubis yang sejak awal dikenal setelah reformasi 1990 -- sekitar tahun 2000 -- dia sungguh akrab dengan Monalisa Misjan yang juga lebih jago orasi pada masa itu. Karenanya Padapotan Lubis dan Monalisa Misjan kerap menyambangi Posko kami di Klinik Hukum Merdeka besutan Benny Akrbar Fatah yang telah terlebih dahulu bersemayam di surga beberapa tahun silam. 

Itulah kenangan indah bersama Padapotan Lubis yang memiliki pemikiran tajam dan radikal tentang berbagai hal yang acap menjadi topik perbincangan antara kami dalam berbagai kesempatan. Dalam budaya diskusi yang terjadi dengan Padapotan Lubis, aku memperoleh kesan dia satu diantara sedikit sahabat yang patuh dan taat untuk mendengar pendapat  hingga argumen setiap lawan bicaranya. Sehingga aku sendiri semakin diyakinkan bahwa untuk lebih banyak belajar mendengar itu merupakan bagian dari prasyarat utama budaya diskusi yang sehat. Kecuali itu -- sebagai penulis -- aku semakin percaya bahwa kemampuan mendengar itu akan lebih baik daripada kemampuan berbicara. Apalagi ditengah budaya untuk menyampaikan pendapat secara lisan semakin ketat dan penuh jebakan dipasang untuk mengkererangkeng siapa saja yang dianggap kritis dan vokal menikamkan kritik ke berbagai arah pada mereka yang merasa memiliki otoritas kekuasaan untuk bertindak semena-mena terhadap siapa saja yang dianggap semacam duri atau batu sandung seakan menjadi perintang untuk bersikap serta bertindak sesuka hatinya sendiri.

Pada posisi saya dan Padapotan Lubis -- serta sejumlah kawan aktivis pergerakan lainnya -- berada yang acap dikatakan oleh banyak pihak sebagai oposisi dari pemerintah. Padahal, sikap  kritis dan keritik yang kami lakukan sepenuhnya murni untuk mengaksentuasikan suara rakyat yang mendambakan perbaikan, baik dalam kerangka struktur maupun pada wujud kultur dari pihak manapun, utamanya dari bilik pemerintah berikut aparatur pelaksananya di tingkat lapangan.

Kisaran tahun 2005 dan seterusnya, Padapotan Lubis lebih dikenal sebagai aktivis Guntir 49. Sebuah rumah di Jl. Guntur No. 49 Jakarta  yang diwakafkan oleh seorang tokoh Partai Sosialis Indonesia, pasangan Subadio Sastrosatomo - Mr. Hj. Raden Ayu  Maria Ulfah Santoso hingga   bangunan beserta lokasinya itu disebut sebagai "Rumah Perjuangan Rakyat",  karena memang diperuntukkan bagi aktivis bergiat serta melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan perjuangan untuk rakyat.

Di tempat inilah  -- Padapotan Lubis leboh dikenal sebagai pengelola gedung yang pada saat awalnya penuh dengan koleksi buku yang berkelas dan sangat berkualitas, utamanya untuk memperkaya serta memperluas  wawasan dan pengetahuan politik tidak hanya sebatas pra kemerdekaan Indonesia semata. Agaknya, di tempat inilah pemikiran dan pandangan politik serta kebangsaan Indonesia Padapotan Lubis semakin taham dan matang. Setidaknya, fanatisme Padapotan Lubis -- jika terlibat atau dilibatkan dalam  suatu acara, selalu ingin melantunkan nyanyian "Padamu Negeri" karya Raden Kusbini telah menjadi lagu wajib yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 1960, namun acap kali diabaikan.

Padapotan Lubis selalu mengesankan tulus dan ikhlas melayani semua keperluan para aktivis yang hendak menggunakan "Rumah Kedaulatan Rakyat" inilah kiprah Padapotan Lubis jadi semakin meluas dan jembar memiliki jaringan hampir di seluruh pelosok tanah air. Setidaknya bagi aktivis dari berbagai daerah yang  datang ke Jakarta, dapat dipastikan ketika itu --Antara tahun 2003 hingga 2015 -- pasti singgah di Guntur 49 -- sebagai tempat yang pernah menjadi ikon bagi kalangan aktivis di tanah air -- identik dengan "maskas besar" kaum pergerakan di Indonesia ketika itu. Pertautannya dengan aktivis senior Prof. Dr. Sri Bintang Pamungkas terkesan mendapat tempat tersendiri. Bahkan pada babak berikutnya, Padapotan Lubis relatif mendapat tempat yang cukup istimewa di  ProDem Indonesia besutan dokrer Hariman Siregar yang terkenal sebagai aktivis mahasiswa sejak aksi besar 15 Januari 1974 -- hingga disebut Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) yang tetap eksis dengan beragam kegiatannya melakukan pekerjaan pencerahan untuk generasi muda di Indonesia, wabil khusus bagi kalangan mahasiswa Indonesia sampai sekarang.

Berita wafatnya aktivis Padapotan Lubis yang saya peroleh Kamis siang, 5 Februari 2026 dari Muhammad Nur Lapong yang memposting lewat whatsapp -- karena kurang lengkap informasinya -- sempat mengungkit emosi kemarahan ala aktivis yang telah terjalin dalam rasa ikatan persaudaraan yang kental -- melalui pertanyaan yang meliputi 5W + 1H. Sebab hasrat untuk ikut melayat dan memberi penghormatan terakhir terhadap segenap dedikasi dan kipranya sebagai aktivis, tak hanya patut dan pantas dilakukan, tapi juga perlu dikukuhkan sebagai bagian dari budaya solidaritas pertemanan, persaudaraan, setidaknya begitulah perhatian maupun penghormatan minimal yang dapat diekspresikan oleh sesama aktivis, kalau pun kelak pada acara 40 harinya tidak dapat diterbitkan sebuah buku kenangan yang ditulis oleh masing-masing aktivis yang merasa memiliki kenangan indah yang berkesan untuk meredakan rasa sesal -- atau bahkan kesal -- semasa interaktif bersama almarhum yang terlanjur menjadi kenangan. Paparan ini pun adalah ekpresi pribadi yang perlu diungkapkan, sebagai bagian dari pertanda penghargaan serta penghormatan pada almarhum yang telah mengisi celah kosong perjuangan bersama dalam membela demi dan untuk kepentingan rakyat. Minimal dalam narasi serupa inilah, hakekat kepahlawanan bagi seorang yang bergelar sebagai kaum pergerakan, jauh lebih nyaman dan tenteram, meski tidak disemayamkan di taman makam aktivis pejuang sejati untuk rakyat.

Sifat dan sikap kesederhanaan Padapotan Lubis tidak hanya tercermin dari rokok lintingnya yang terasa berat dan keras, tapi juga dari tutur katanya yang tak pernah hendak menggunjingkan seorang kawan pun, kecuali dengan musuh politiknya yang nyata berseberangan secara ideologis dan mengancam rakyat. Terakhir kali jumpa, dia mengakui telah menyisih tinggal di Karawang bersama anak dan istrinya. Nyaris setahun menahan kangen ingin jumpa dengan aktivis yang memiliki kesederhanaan yang khas ini, pun tak lagi pernah mendapatkan momen untuk bersua. Meskipun biasanya ia selalu hadir pada berbagai acara yang dilakukan oleh kaum pergerakan. Termasuk di forum buruh maupun mahasiswa. Dan rasa kehilangan seorang sahabat setia yang bersahaja, sungguh terasa dan terkesan seperti pengalaman yang tidak mungkin terelakkan. 

Teluk Naga, 5 Februari 2026.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment