News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Isra' dan Mi'raj Perjalanan Spiritual Yang Ingin Dihitung jaraknya Dengan Kereta Cepat

Isra' dan Mi'raj Perjalanan Spiritual Yang Ingin Dihitung jaraknya Dengan Kereta Cepat

 

Oleh:Jacob Ereste 

Mediapertiwi,id-Isra' dan mi'rad itu adalah perjalanan dalam dimensi spiritual yang tidak terjangkau oleh akal. Karena itu bagian dari pembuktian bahwa kemampuan akal manusia itu sungguh terbatas, tapi kemampuan daya jangkau spiritual itu jauh melampaui akal manusia. Sehingga perjalanan malam -- isra' itu -- dari Mekkah ke Yerusalem yang  berjarak sekitar 1 240 kilometer itu -- setara dengan jarak Lampung hingga Banda Aceh hanya 1.245 kilometer. Jadi bisa dibayangkan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW ketika itu belum ada pesawat terbang bisa menempuh jarak dari Mekkah ke Yerusalem hanya dalam waktu sekejap dan terus langsung naik ke langit juga diyakini bersama Malaikat diterbangkan oleh burung Buraq milik Tuhan.

Peristiwa Isra' ini terjadi pada tahun 621 Masehi. Dan mi'raj -- prosesi naik ke langit itu pun dilakukan pada saat itu juga -- di malam yang sama -- menuju Sidratul Muntaha, yaitu langit ke tujuh suatu tempat yang sangat dekat dengan Allah SWT, penguasa jagat raya dan seisinya berikut beragam makhluk ciptaannya. 

Pertemuan Nabi Besar Muhammad SAW untuk menerima  langsung perintah bagi manusia untuk menunaikan sholat lima waktu. Begitulah keajaiban yang tercatat dalam sejarah Islam hingga selalu diperingati untuk memahami makna terdalam dari kandungan nilai-nilai spiritual guna mendekatkan diri kepada Allah. 

Demikian juga peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun berikutnya, 622 Masehi yang didasarkan oleh kecerdasan spiritual Sang Nabi. Bahwa makna hijrah dalam yang juga berdimensi spiritual ini -- menandai perubahan besar dalam sejarah Islam -- awal dari pembentukan komunitas Muslim yang mandiri dan kuat dengan menghindari konflik menuju tempat yang lebih kondusif yang lebih baik, meninggalkan tempat yang buruk penuh godaan dan cobaan serta rintangan untuk menikmati suasana yang damai sehingga dapat menjalankan ibadah -- tak hanya sholat dan ketentuan lain yang menjadi tuntunan agama Islam yang mengusung semangat rahmatan lil alamin.

Dalam konteks yang lebih luas dan mendalam, hakikat hijrah itu dapat dipahami sebagai bagian dari proses transformasi spiritual dan sosial yang harmoni dalam pengertian dunia maupun akhirat. Syahdan, Yerusalem sendiri adalah kota yang berada di Palestina yang sangat penting bagi agama langit -- Islam dan Kristen maupun Yahudi yang percaya sebagai daerah yang suci. Dan dari Yerusalem Nabi Besar Muhammad SAW take of menuju langit, sehingga banyak pendapat para ahli yang percaya bahwa Yerusalem itu merupakan pintu terdekat menuju langit. Ibarat dalam penerbangan, Yerusalem itu seperti terminal bording pemberangkatan menuju langit. Dan Nabi dikawal langsung oleh Malaikat Jibril -- semacam Kepala Satuan Pasukan  -- yang lebih banyak berhubungan langsung dengan Tuhan.

Setelah menerima semacam juklak untuk menunaikan sholat lima waktu seperti yang dilakukan oleh Umat Islam sampai hari ini, Nabi Muhammad langsung kembali ke bumi dan mendarat menuju ke Mekkah, dan sangat mungkin transit di Yerusalem. Tapi yang lebih menakjubkan adalah perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem serta perjalan ke langit lapisan ke tujuh itu -- Sidratul Muntaha -- bisa dilakukan pada malam yang sama.

Artinya, kalau mau dipikirkan secara ilmiah hanya untuk perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem saja sudah  sudah tidak mampu dicerna oleh akal yang sehat dan jenius sekalipun. Sebab jarak tempuh berikutnya -- selain dari Mekkah ke Yurusakem dan balik kembali dari Yerusalem ke Mekkah saja sudah lebih dari 2000 kilometer. Belum lagi jarak tempuh dari Yerusalem ke Sudratul Muntaha. Sehingga pada 2600-an tahun yang lalu itu sudah ada sejenis pesawat terbang yang memiliki kecepatan lebih dari kecepatan cahaya.

Sekedar untuk mengukur jarak dari bumi -- Yerusalem -- Sidratul Muntaha, yaitu langit lapisan ke tujuh, ternyata kepongahan Artivisial Inteligence pun menyerah (AI) untuk menghitung jarak dari Yerusalem ke Sudratul Muntaha. Karena menurut AI tidak dapat diukur secara pasti -- fisik -- karena merupakan bagian dari keajaiban spiritual. Namun dalam Qur'an jelas  disebutkan bahwa Sudratul Muntaha itu berada di ujung langit (Surat Al Najm : 14). 

Dari pendapat para ulama jarak dari bumi ke Sudratul Muntaha itu berjarak 5.000 tahun jika ditempuh dengan berjalan kaki. Spekulasi perkiraan ini pun dilakukan oleh para ahli ilmu pasti pada ratusan tahun yang lampau. Tentu berbeda jika dilakukan sekarang dengan standar kereta cepat yang lagi viral menjadi topik pembicaraan di Indonesia.

Banten, 18 Januari 2026.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment