News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Gus Dur: Humor, Keberanian Moral, dan Jejak Intelektual yang Tak Pernah Padam

Gus Dur: Humor, Keberanian Moral, dan Jejak Intelektual yang Tak Pernah Padam


Oleh : Jacob Ereste

MediaPertiwi,id-Mengenang Abdurrahman Wahid (Gusdur) selalu berarti menelusuri jejak intelektual Indonesia yang hidup, cair, dan berani melawan kemapanan. Ia bukan semata tokoh politik, bukan pula sekadar pemimpin organisasi keagamaan. Gus Dur adalah pengalaman intelektual yang terus bergerak dalam ingatan kolektif bangsa. Humor yang khas, keberanian moral yang konsisten, serta keluasan wawasannya menjadikannya sosok yang, meski telah wafat, tak pernah benar-benar pergi.

Bagi penulis, ingatan tentang Gus Dur berakar sejak dekade 1980-an, ketika masih berstatus mahasiswa di Yogyakarta dan aktif sebagai redaktur budaya Majalah Muhibbah, majalah kampus Universitas Islam Indonesia (UII). Majalah ini pernah dibredel oleh rezim Orde Baru akibat kritik-kritiknya yang tajam terhadap kebijakan negara yang dinilai abai terhadap kepentingan rakyat. Peristiwa pembredelan tersebut mencerminkan iklim politik represif kala itu, ketika kebebasan berpikir dan berekspresi menjadi kemewahan yang mahal harganya.

Setelah sempat terhenti beberapa edisi, Muhibbah terbit kembali dengan nama Himmah. Dari ruang redaksi inilah terjalin pertautan intelektual antara mahasiswa dan tokoh-tokoh nasional. Gus Dur menjadi salah satu figur sentral yang dihadirkan sebagai narasumber laporan utama, berdampingan dengan nama-nama seperti Adi Sasono, Habib Chirzin, Arief Budiman, hingga sastrawan besar W.S. Rendra.

Pada masanya, Muhibbah dikenal memiliki selera intelektual tinggi dan tercatat sebagai salah satu majalah kampus dengan oplah terbesar. Redaksi diasuh oleh Machfud MD sebagai ketua umum, Anang Eko Priyono sebagai pemimpin redaksi, serta Hamid Basyaib dan kawan-kawan—aktivis mahasiswa yang ditempa kerasnya situasi politik Orde Baru. Mereka merupakan bagian dari generasi demonstran 1978 yang menentang kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK), sebuah fase kelam ketika panser militer bahkan dapat memasuki kampus Universitas Gadjah Mada.

Relasi mahasiswa UII dan UGM kala itu membentuk poros penting gerakan mahasiswa Yogyakarta. Dukungan Rektor UII, GBPH Prabuningrat saudara Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberikan ruang relatif aman bagi aktivitas intelektual dan dinamika gerakan mahasiswa. Bahkan, UII saat itu memiliki pemancar radio sendiri yang mengudara langsung dari Kampus Pusat di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta.

Dalam konteks itulah perjumpaan dengan Gus Dur menjadi pengalaman yang bukan hanya intelektual, tetapi juga personal. Diskusi tidak berhenti di ruang redaksi, melainkan berlanjut di berbagai forum mulai dari Taman Ismail Marzuki hingga rumah Gus Dur di Jalan Warung Sila, Jakarta. Rumah tersebut sederhana, bahkan belum sepenuhnya rampung, namun telah dihuni. Kesederhanaan itu mencerminkan kepribadian Gus Dur: bersahaja, tanpa jarak sosial, tanpa aura kekuasaan.

Interaksi berlanjut di kediaman Soedjatmoko serta di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat kini kawasan Matraman ketika Gus Dur menjabat Ketua Umum PBNU. Ia hadir sebagai pemikir publik yang melampaui sekat ideologis, sekaligus pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan keberanian moral yang khas, bahkan kerap kontroversial.

Kedekatan Gus Dur dengan dunia seni dan budaya juga tak terpisahkan dari sosoknya. Dalam sebuah perhelatan di Gedung Seni Sono, Yogyakarta, ia tampil bersama para seniman dan budayawan, bahkan menjadi “bintang panggung”. Peristiwa ini konon sempat memancing olok-olok bersahabat dari Emha Ainun Nadjib sama-sama berasal dari Jombang, namun menempuh jalur estetik dan politik yang berbeda. Gus Dur menanggapinya dengan tawa, sebab baginya humor adalah cara paling jujur untuk menyampaikan kebenaran.

Tulisan-tulisan Gus Dur termasuk esai-esainya tentang sepak bola menunjukkan keluasan referensi dan ketajaman rasa. Ia mampu menempatkan politik, budaya, dan agama dalam satu tarikan nafas yang luwes. Humor politik yang digunakannya bukan sekadar kelakar, melainkan kritik tajam yang kerap lebih mengena daripada pidato-pidato serius.

Pengalaman bersama Gus Dur berlanjut ketika penulis terlibat dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) dan Forum Demokrasi (Fordem) yang digagas Gus Dur bersama Marsilam Simanjuntak. Forum ini menjadi ruang temu lintas ide dan latar belakang, dihadiri tokoh-tokoh seperti Rocky Gerung dan Bondan Gunawan, dengan diskursus yang bebas, kritis, dan berani sebuah kemewahan di tengah iklim politik yang masih sarat pembatasan.

Di Dewan Kesenian Jakarta, publik semakin mengenal keunikan Gus Dur. Ia kerap tampak tertidur dalam forum diskusi, namun mampu menyimpulkan pembicaraan dengan presisi yang mengejutkan. Foto Gus Dur tertidur di tengah diskusi, yang diabadikan pelukis Hardi wartawan majalah Horison menjadi simbol paradoks kecerdasan: menyimak dalam diam, berbicara dengan kejernihan.

Tak jarang, Gus Dur menggoda audiens dengan gagasan-gagasan nyentrik, termasuk melontarkan konsep “Marxisme yang Islami” sebuah provokasi intelektual yang hingga kini masih memancing perdebatan. Di situlah daya Gus Dur: menjadikan politik sebagai humor, dan humor sebagai jalan menuju kebenaran.

Gus Dur telah tiada, tetapi jejaknya tak pernah padam. Ia hidup dalam ingatan, dalam tawa, dan dalam keberanian berpikir. Gus Dur bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan denyut intelektual yang terus menggoda, menguji, dan menginspirasi Indonesia untuk tetap waras di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.

*Penulis : Jacob Ereste*.


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment