Do'a dan Tobat Nasuha Nasional Bersama Bagi Segenap Warga Bangsa Indonesia Perlu Segera Dilakukan
Oleh:Jacob Ereste
Setiap tindakan memilki konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan ketika di dunia dan kelak diakhirat. Karena itu kesadaran terhadap tindakan atau pilihan sikap yang salah, harus dikakukan tobat nasuha, bukan saja sebagai pengakuan kesalahan, tapi juga sebagai janji kepada diri untuk tidak mengulang kesalahan yang sudah dilakukan itu, sehingga pantas untuk meminta ampun terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sekaligus Maha Pemaaf.
Masalahnya yang paling esensial adalah, sejauh mana makna dari tobat nasuha itu disadari dan dipahami sebagai pertobatan yang tulus dan ikhlas untuk mengakui kesalahan, bukan sekedar semacam interupsi untuk mengungkap berbagai alasan dan sanggahan terhadap kesalahan yang sudah dilakukan, agar Tuhan memberikan permakluman. Sebab hakikat dari tobat nasuha itu tidak bisa ditafsir untuk melakukan pembelaan diri, namun semata-mata kesadaran yang paling murni dan tulus dari pengakuan bersalah, misalnya ketika meyakini dugaan terhadap perbuatan orang lain yang melakukan pemalsuan, kesaksian bohong atau tipu daya demi dan untuk kepentingan diri sendiri dengan mengabaikan etika, moral dan akhlak terhadap publik yang dianggap kentut. Sehingga rasa ketersinggungan publik tercederai, merasa terhina, merasa dikadali dan tidak dianggap perlu untuk dihargai seperti hasrat terhadap perlakuan orang lain kepada diri kita sendiri.
Pernyataan seorang kawan aktivis mengenai sikap untuk meneguhkan konsistensi, mempertegas komitnen, melanjutkan perjuangan untuk melawan kezaliman, menjadi sangat menarik, bukan saja karena dilontarkan yang terkesan sangat spontan dari seorang kawan aktivis tersebut yang tampaknya jelas merasa dikhianati oleh sesama kawan aktivis yang lainnya. Pada akhirnya memang kelak, kesaksian sejarah pasti akan membuktikan keculasan dan kemunafikan yang sesungguhnya terjadi dan telah dilakukan itu., demi dan untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Sebab pejuang sejati yang sesungguhnya bukan saja sangat sadar bahwa sejarah tidak bisa dimanipulasi, karena bumi dan langit pasti konsisten mencatat kebenaran dan kebohongan, seperti sikap asli dan palsu -- seperti wujud kemunafikan yang dikira tidak terbaca oleh banyak orang -- karena apa pun cara dan upaya yang dilakukan untuk menyembunyikan kebusukan itu, kelak pasti akan terendus dan terkuak juga.
Tobat nasuha dalam perspektif hukum adat, hukum agama dan hukum yang berlaku di suatu republik manapun -- utamanya di Indonesia tidak terlalu penting karena sifat dan sikapnya hanya dapat dikenakan dalam sanksi moral -- dimensi ilahiyah -- karena dapat diabaikan oleh sanksi hukum positif yang berlaku di suatu republik. Apalagi bagi para kaum milineal di Indonesia yang sangat memahami tradisi hingga budaya di negeri Kanoha yang entah berantah sistem dan tatanan hukumnya.
Paparan ini semakin menarik dan relevan, karena pada acara diskusi Aspirasi Indonesia pada hari Selasa, 6 Januari 2026 di Sekretariat Jl. Pati No. 26, Menteng, Jakarta Pusat justru berniat untuk mengusung topik "Tobat Nasuha Nasional" terkait dengan beragam bencana akibat ulah manusia yang rakus dan tamak, sehingga menimbulkan banyak kerugian harta benda dan nyawa manusia yang hilang sia-sia. Artinya, tobat nasuha secara nasional bagi bangsa dan Negara Indonesia sungguh mendesak dilakukan. Seperti gagasan GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonedia) yang sudah lama ingin melaksanakan acara "Do'a Nasional Bersama Seluruh Elemen Masyarakat" untuk bangsa dan negara agar tidak terus menerus didera ulah -- semacam azab -- akibat daisa nasional yang mencederai kehidupan manusia di bumi.
Agaknya, begitulah , do'a dan tobat nasuha bersama bagi segenap warga bangsa Indonesia semakin mendesak untuk dilakukan, agar ketenteraman dan kenyamanan di bumi nusantara ini dapat kita nikmati dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan tiada mencederai siapapun.
Pantai Indah Kapuk II, 10 Januari 2026.

Post a Comment