News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pertanyaan Spiritual Penyair Sufi : Mengapa Harus Sakit Diantara Hidup Dan Mati

Pertanyaan Spiritual Penyair Sufi : Mengapa Harus Sakit Diantara Hidup Dan Mati

Oleh:Jacob Ereste 

Mediapertiwi,id,-Entah untuk kunjungan pendampingan yang  ke berapa bagi anggota keluarganya yang sakit, dia pun mulai merasakan dirinya pun telah sakit. Semula, dia menduga sakit yang dideritanya itu cuma sekedar efek dari psikologis karena hampir setiap hari dia berada diantara orang-orang yang sakit. Jenis dan derita yang mendera mereka  itu sungguh beragam. Bahkan semacam es campur yang terdiri dari berbagai unsur. Hingga rasanya pun jadi nano-nano, enggak karu-karuan. Karena mulai dari penyakit encok, asam urat, hingga radang paru-paru dan darah tinggi serta gejala struk, semua datang ke rumah sakit. Padahal banyak diantara mereka yang sakit itu, sangat anti asap rokok.

Uniknya, semua  kawan-kawan yang merokok tidak pernah dia tolak untuk dibelikan rokok. Misalnya ketika mereka sedang tidak berduit, bahkan tak jarang atas inisiatif dirinya sendiri, dia dengan senang hati membelikan rokok. Sementara rokok itu telah dinyatakan secara resmi telah menjadi pembunuh secara perlahan-lahan untuk mereka yang melakukannya. Toh, pembunuhan yang dilakukan secara perlahan-lahan oleh rokok itu tidak pernah didakwa atau dikenakan sanksi hukum. 

Seorang kawan lain yang berbaik hati juga tak keberatan untuk membelikan rokok bagi kawan-kawannya terlihat manyun, karena tak punya rokok. Realitasnya juga, kawan yang membelikan rokok itu pun tak pernah dituduh sedang melakukan pembunuhan, meski pada akhirnya sejumlah kawan yang pernah dia belikan rokok itu kemudian benar mati.

Seorang kawan lain yang juga biasa membelikan rokok -- meski dia sendiri tidak merokok -- seperti tak pernah keberatan terhadap kawannya yang merokok -- meski  kemudian sendiri cukup meminta jawan-kawannya yang merokok itu agak sedikit menjauh dari dirinya bila sedang merokok.

Anehnya, sejak kawan yang tidak merokok ini divonis sakit oleh sang dokter, sejak hari itu juga sejumlah kawan dan sahabat karibnya berdatangan dalam beberapa gelombang maupun secara bergerombol untuk membesuk. Mungkin dengan cara ingin menunjukkan loyalitas atau lebih tepatnya solidaritas terhadap diri dalam membangun perkawanan yang untuk sohibnya yang sudah divonis sakit. Padahal dalam tampilannya sehari-hari, hampir semua kawan dan kerabatnya yang lain, melihat dirinya, sehat-sehat saja. Seperti kekeliruan banyak orang menduga kondisi Indonesia yang tetap dianggap baik-baik saja, tidaklah memiliki kekurangan sedikit pun dari penampilan seperti hari-hari sebelum tragedi itu. Karenanya, mereka tampak bercengkrama santai sambil tertawa renyah menyantap  buah-buahan dan jagung rebus sebagai makanan paling dia suka sejak masa kecil di kampung halaman dahulu. 

Sebagai manusia yang tumbuh dan besar di lingkungan masyarakat agraris, dia merasa cukup cepat beradaptasi menyesuaikan diri. Setidaknya dari makanan yang paling dia suka, sudah lebih dari cukup untuk menenteramkan hati untuk terus hidup di kota besar yang hingar bingar dan bising. Apalagi selalu terkesan terus berpacu dengan sang waktu.

Bayangkan, di jalan protokol Gatot Subroto, pada pukul setengah empat pagi tadi,  beragam macam  kendaraan sudah saling bersaing dan berebut posisi untuk berada di depan agar tidak terlambat untuk menunaikan tugas dan kewajibannya yang rutin dan membosankan itu. Padahal di jalan raya luar kota menuju Jakarta saja, telah merangsek sejuta sepeda motor seperti sedang berpacu di arena balap, lebih liar dan mengerikan dibanding di sirkuit  Motor GP yang sesungguhnya seperti yang sering dilakukan Valentino Rossi.

Suasana berpacu dan bersaing mengejar waktu, persis seperti  yang diperlihatkan oleh para pasien di rumah sakit. Seakan-akan mereka tidak hanya sekedar dikejar oleh waktu, tetapi mereka juga merasa sedang didekati oleh sang ajal yang berada di setiap tikungan tajam yang sangat berbahaya, karena nuansa kematian semakin dekat pada diri mereka.

Toh, atas dasar keinginan dan hasrat dari keinginan hati yang kuat untuk menolak -- atau lebih tepatnya menunda waktu kematian -- maka ajal bagi setiap orang seperti sedang dipertaruhkan ketika harus kembali bolak-balik ke rumah sakit. 

Dalam proses perenungan seperti inilah, Tuhan baru mereka sadari begitu jauh. Karena mulai dari rasa sakit -- mungkin cuma disebakan psikis semata sifatnya -- toh, semua itu tetap berada di luar kekuasaan manusia. Sebab bagi seorang doktor sekalipun yang paling kampiun, tak mampu menolak kematian yang datang menjemput. Bukan pula hanya untuk menyelamatkan diri orang lain sebagai pasien, tetapi juga seorang dokter tidak mampu mencegah kematian untuk dirinya sendiri.

Mungkin atas dasar cara berpikir yang pongah itu -- akibat mengunggulkan pemikiran ilmiah yang mengingat suratan Tuhan --  maka akal pikiran manusia harus tabik dan salut pada capaian spiritual yang mampu melampaui akal manusia paling genius sekalipun. Karena sikap sombong dan jumawa serta keangkuhan  yang tiada pernah disandari pada dasarnya akal dan pikiran manusia tetap dominan, telah membuat celaka dan mendatangkan malapetaka, karena prosesnya tidak mengindahkan dimensi spiritual.

Sejatinya, vibrasi spiritual yang mampu menggerakkan kedekatan relatif dengan Tuhan itu penting dan perlu. Di Indonesia memang tampaknya,  Tuhan sudah terlanjur dianggap cukup  dijadikan bagian dari simbol yang terbingkai dalam sila dari Pancasila. Ikhwal sejatinya hakikat hidup, sesungguhnya tidak kalah banyak bertebar juga di rumah sakit. Jadi, rumah sakit bukan cuma sekedar tempat persinggahan sebelum kematian tiba. Tapi rumah sakit tempat yang baik untuk merenungkan sebelum kehidupan berakhir.

Begitulah pertanyaan seorang  penyair sufi yang menggantung percakapan pagi di rumah sakit. Mengapa harus sakit diantara hidup dan mati. Adakah sakit itu sebagai pelunas dosa untuk memuluskan jalan sebagai persyaratan menuju akhirat ?

Sang sufi itu pun tercenung dalam renungannya yang tak pernah rampung. Dia pun tampak masih juga meragukan, bila  kekuasaan dari langit sungguh tidak terbantah dalam wujud nyata kematian. Jadi bukan cuma dalam kehidupan.

Diantara antrean para pasien itu, dia melihat dirinya tengah terduduk di kursi roda. Sehingga dia benar-benar merasakan bahwa dirinya tak sepenuhnya berdaulat  atas jasad dirinya sendiri yang tidak lagi berati. Ketika itu pun  dia teringat pada  sepenggal bait puisi  penyair Chairil Anwar yang terbilang religius: "Sekali berarti, sesudah itu mati". Dalam historisnya, masih dalam usia yang relatif muda Chairil Anwar pun dihantar  ke pemakaman Karet Jakarta oleh kawan penyair lainnya dengan penuh rasa sendu.

RS. Dharmais, 6 Juli 2023

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment